Pada tahun 1922 pada jaman penjajahan belanda oleh Y.Eyeken. (Residen Priangan) Pananjung dijadikan Taman buru,pada sa'at itu dilepaskan seekor bantenng jantan,tiga ekor sapi betina dan beberapa ekor rusa
Karena memiliki keanekragaman satwa dan jeenis-jenis tanaman langka agar kelangsungan habitatnya dapat terjaga pada tahun1934 Pananjung di jadikan Suaka Alam dan Marga Satwa dengan luas 530 Ha.Pada tahun 1961 setelah di temukan nya bunga RaflesiaPadma status berubah menjadi Cagar Alam.Dengan meningkat nya kebutuhan masyarakat akan tempat Rekreasi maka pada tahun 1978 sebagian kawasan wisata tersebut seluas 37,70 Ha dijadikan taman wisata.pada tahun 1990 di kukuhkan pula kawasan perairan di sekitar bagian Cagar Alam Laut(470,0 Ha) sehingga luas kawasan Pelestarian Alam seluruhnya menjadi 1000,0Ha
Obyek-Obyek Yang Dapat Dikunjungi
a.Goa Lanang
c.Batu Kalde/Sapi Gumarang
d.Goa Sumur Mudal
f.Goa Parat/Goa Keramat
![]() |
| Add caption |
g.Goa Jepang
![]() |
| Add caption |
h.Flora dan Fauna
Sekitar abad ke XVI Keraja'an Pananjung berdiri,Rajanya adalah Raden Anggalarang dengan permaisurinya Dewi Siti Samboja atau dikenal Dewi Rengganis serta di bantu oleh Patih Aria Kidang Pananjung.
Raden Anggalarang adalah seorang putra Prabu Haur Kuning seorang Raja Keraja'an Galuh Pangauban yang berpusat di Putra Pinggan.Raden Anggalarang mendirikan Keraja'an Pananjung atas keinginannya sendiri walau pun Prabu Haur Kuning telah memperingatinya baha apabila mendirikan keraja'an di tempat tersebut tidak akan berjaya karena rawan dari gangguan para Bajo (Bajak Laut) yang berpusat di Nusakambangan,sedangkan Pananjung dan Pangandaran adalah tempat persinggahan mereka.Tetapi Raden Anggalarang tetap pada pendiriannya karena menurutnya Pananjung adalah satu satunyatempat yang cocok bagi dirinya untuk mendirikan pusat pemerintahan.
Setelah keraja'an Pananjung berdiri,penghidupan masyarakat Pangandaran yang kini telah menjadi rakyat keraja'an Pananjung penghidupannya semakin maju dan makmur trutama bidang perikanan laut dan pertanian karena memiliki mentri yang menguasai bidang tersebut yaitu Aria Sapi Gumarang yang kemudian di simbolkan dengan Batu Kalde.
Tetapi akhirnya perkata'an ayahanda Prabu Haur Kuning terbukti di alami oleh Raden Anggalarang.Keharuman dan Kecantikan Dewi Rengganis telah memikat hati pimpinan Bajo dari Nusakambangan sa'at singgah di Pangandaran.Semula kedatangan para Bajo tersebut adalah untuk mengadakan kerja sama perdagangan dengan pihak keraja'an Pananjung dan kedua belah pihak telah sepakat dan Perdagangan berlangsung dengan sistem Barter yaitu hasil bumi dari Keraja'an Pananjung di tukar dengan Perhiasan dan barang-barang mewah dari para Bajo.Dalam pertukaran barang ini pimpinan Bajo selalu datang sendiri ke Pananjung karena selain tujuan berdagang dia ingin bertemu dengan Dewi Rengganis.Semakin lama pimpinan Bajo semakin tertarik dan niatnya tidak tertahankan unutuk memiliki Dewi Rengganis dan ingin merebutnya dari Raden Anggalarang.Akhirnya membuat reka perdaya untuk merebut Dewi Rengganis dan memerintahkan anak buahnya untuk membeli hasil bumi dari Pananjung dngan harga murah dan di lakukan dengan cara paksa,melihat kejadian demikian tentu saja Raden Anggalarang marah karena para Bajo telah melanggar isi perjanjian semula.
kejadian tersebut membuat kedua belah pihaksaling bersengketa,kemudian para Bajo menyerang keraja'an Pananjung secara diam-diam.Patih kerja'an Pananjung yaitu Aria Kidang Pananjung dapat di kalahkan oleh para Bajo sehingga keraja'an diporak porandakan,rumah-rumah penduduk di rampok dan di bakar.Paman lengser pengasuh keluarga keraton serta para abdi yang selamat dari kepungan musuh segra mengingsikan keluarga keraja'an atas perintah Prabu Anggalarang.Pimpinan Bajo kecewa setelah mengetahui Anggalarang kabur bersama Dewi Rengganis dan keluarga keraton lainnya,sehingga ia memerintahkan anak buahnya untuk segera mengerjarnya.Rombongan Anggalarang terus berlari-lari dari tempat satu ke tempat yang lainnya menghindari kejaran dari para Bajo.Karena para Bajo tidak heni-hentinya mengejar maka Raden Anggalarang memutuskan untuk mengacaukan pengejaran mereka dengan cara membagi dua kelompok.Kelompok pertama di pimpin oleh Anggalarang sendiri pergi menuju selatan dan kelompok kedua yaitu Dewi Rengganis di pimpin oleh paman Lengser pergi ke arah utara.Baru saja selang beberapa waktu mereka berpencar,Anggalarang kepergok dengan pimpinan Bajo beserta anak buahnya yang memang sedang mengajarnya,maka terjadilah perkelahian seru hingga akhirnya anggalarang gugur oleh kelicikan mereka.
Dewi rengganis sempat menyaksikan kejadian itu dari jarak jauh di puncak bukit,tetapi apa daya walau hati ingin memeluk suaminya yang gugur telah gugur bersimbah darah tidak dapat dilakukan karena pimpinan bajo itu akan memaksanya menjadi istri,akhirnya ia hanya bisa menangis dan segera meneruskan perjalanannya.
Setelah kejadian itu Dewi Rengganis hampir putus asa akan tetapi untunglah paman lengser selalu menghiburnya dan memberikan wejangan serta dorongan untuk lebih kuat menahan coba'an.
Pada suatu hari Dewi Rengganis meminta izin kepada paman lengser untuk melakukan Tapa Brata untuk memperoleh petunjuk dari yang maha kuasa,di dalam Tapanya Dewi Rengganis mendapat petunjuk agar selamat dari kejaran para Bajo,ia di haruskan menyamar dengan membuat Rombongan Seni Doger (Ketuk Tilu) dan Dewi Rengganis menjadi Waranggana (Ronggennya) hal itu pun segera di laksanakan,para prajurit yang setia menyertainya menjadi Panayagan dan paman lengser sebagai pimpinan rombongan.Pada setiap malam mereka mengadakan pertunjukan seni Doger (Ronggeng Gunung) dari satu tempat ketempat lainnya sedangkan pada siang hari tetap bersembunyi menghindari para Bajo.
Setelah mendengar keraja'an anaknya di porak-porandakan para Bajo dari Nusakambangan Prabu Haur Kuning mengutus salah seorang keprcaya'annya yaitu Raden Sawung Galing untuk membantu putranya menyelamatkan diri dari kejaran para Bajo.
Dalam pencarian dimana Raden Anggalarang berada,Raden Sawung Galing sempat menyaksikan pertunjukan kesenian yang belum pernah di lihatnya yaitu Ronggeng gunung.Kemudian timbul kecuriga'an kepada paman lengser yang menjadi ketua rombongan kesenian tersebut yang perilakunya lucu suka melucu (melawak istilah sunda ngabodor).Kepenasaran Raden Sawung Galing akhirnya membuat dirinya mendapat keterangan bahwa benar mereka adalah rombongan permai suri raja yang sedang menyamar.Setelah Raden Sawung Galing memberitahukn bahwa dirinya adalah utusan dari Raja Galuh Pangauban.Paman lengser menceritakan kejadian yang di alaminya dari awal sampai Prabu Anggalarang gugur hingga rombongannya menyamar menjadi rombongan Ronggeng Gunung.Sawung Galing kemudian menggabungkan diri dengan rombongan tersebut.
Karena sudah merasa lelah berpindah-pindah dan untuk sementara para Bajo pun kehilangan jejak,maka Raden Sawung Galing menyarankan kepada Dewi Rengganis untuk menetap di Bagolo dan Dewi Rengganis pun menyetujuinya.Rombongan kemudian mendirikan pemukiman di bantu oleh penduduk yang telah ada sebelumnya,Pada malam hari kesenian Doger tetap di laksanakan memenuhi biaya hidup dan pada siang hari mereka bercocok tanam.Lama kelama'an pemukiman tersebut semakin ramai karena banyak masyarakat yang mendirikan bangunan di sekitarnya terutama mereka mengetahui bahwa yang tinggal di sana adalah bekas permaisuri Raja Pananjung.Mulai lah di adakan latihan-latihan keprajuritan dan ilmu kedigjaya'an yang di pimpin oleh Raden Sawung Galing walau pun secara sembunyi-sembunyi agar tidak di curigai para Bajo yang terus mencari Dewi Rengganis.
Setelah sekian lama kedekatan Dewi Rengganis dengan Raden Sawung Galing akhirnya menumbuhkan rasa cinta di antara keduanya dan paman lengser menyetujui untuk dinikahkan.
Semakin lama pemukiman mereka semakin besar hingga mirip dengan sebuah keraja'an kecil,hal ini membuat kecuriga'an oara Bajo yang tak henti-hentinya mencari Dewi Rengganis.Setelah pimpinan Bajo mengetahui bahwa Dewi Rengganis telah dinikahi oleh Raden Sawung Galing serentak kemarahannya bangkit karena wanita yang di impikan nya siang dan malam kini telah menjadi milik orang lain.Sa'at itu juga para Bajo langsung menyerang pemukiman Dewi Rengganis dan Raden Sawung Galing yang di sebut Bagolo terjadilah prtempuran yang sangat sengit antara pasukan Sawung Galing dan para Bajo,karena pasukan Sawung Galing telah di persiapkan matang dan di latih ilmu perang yang tangguh sehingga kemenangan berada di pihak Raden Sawung Galing,dan pimpinan Bajo gugur di tangan Sawung Galing.Dewi Rengganis merasa gembira dendam kepada pembunuh suaminya Anggalarang yang selama ini terpendam kini telah terbalaskan.
Setelah kejadian itu Sawunggaling bersama Dewi Rengganis kembali ke Pananjung untuk membangun kembali keraja'an Pananjung meneruskan Pemerintah Raden Anggalarang yang sempat di duduki para Bajo kejadian ini di sebut dengan "PANANJUNG NGADEG TUMENGGUNG" dengan rajanya yang baru yaitu Prabu Sawunggaling.
Kehidupan di Pananjung semakin maknur.masyarakatnya yang bekerja sebagai Petani,Nelayan,dan Berdagang merasa aman tentram karena didukung oleh keada'an lingkungan yang strategis dan mudah untuk melakukan tranportasi laut.








Tidak ada komentar:
Posting Komentar