Senin, 18 Mei 2015

Citumang Pangandaran

Tubuh Mengambang di Citumang Pangandaran

Akhirnya kesampaian juga liburan ke Pangandaran. Jadwal liburan kesana yang harusnya minggu pertama bulan Juli harus tertunda satu minggu. Pertama karena masih liburan sekolah anak di Indonesia. Yang ini bikin Pangandaran jadi penuh sesak. Kedua karena saya terbaring sakit otot bagian dada. Maklum kebanyakan maen tennis. Begitu kata dokter rehab medik. Setidaknya cuma otot saja, bukan bagian vital lainnya.

Berangkat pagi-pagi sekali dari Bandung. Sebetulnya nggak pagi juga sih. Sudah jam setengah tujuh. Tapi lumayan pagi juga buat anak-anak saya. Karena selama liburan di Indonesia - kedua anak saya sekolah di Qatar - mereka selalu bangun siang.

Tidak banyak cerita seru selama hampir tujuh jam perjalanan dengan mobil. Kecuali makan di restoran Mergo Sari di daerah Ciamis. Hampir ada sekitar delapan restoran dengan nama yang sama di sepanjang jalur ini. Hebat juga yang punya restoran ini, bisa punya banyak cabang. Atau hebatnya bisa jadi karena mengijinkan orang lain pakai nama yang sama padahal bukan cabang restorannya. Sayang saya tidak tanya ke pelayan restoran, mana yang benar. Di restoran ini, makan siang orang berenam, empat dewasa dua anak sangat murah. Paling tidak, murah kalau dibandingkan harga buat jumlah orang yang sama di Qatar. Dengan menu sunda tapi dengan dihidang ala restoran padang, sambil lesehan pula harganya tidak sampai 100 ribu rupiah. Apalagi ditambah suguhan kolam ikan mas dan lele yang besarnya segede betis tukang becak.

Sampai di Pangandaran menjelang waktu Ashar. Setelah check-in di hotel yang hari itu banyak diinapi sama orang bule (saya yakin mereka orang Belanda, karena ada spanduk welkom-nya) anak-anak langsung pengen ke pantai. Menyewa dua kamar, satu untuk anak-anak dan nenek mereka satunya lagi buat saya dan istri. Lagi-lagi dari sisi harga, hotel yang sangat bersih ini terbilang cukup murah. Maaf kalau kali ini saya juga membandingkannya dengan harga di Qatar, tempat saya selama lima tahun belakangan berdomisili.

Di pantai tidak banyak orang yang sedang liburan. Hanya ada dua sampai tiga orang turis. Selebihnya turis lokal. Ombaknya hari itu juga tidak besar. Cukup buat main basah-basahan. Wisata air memang selalu menjadi favorit anak-anak saya. Dimanapun lokasinya. Puas bermain di pantai dan pasir, kami mengunjungi cagar alam yang tidak jauh dari pantai. Dipandu oleh petugas resmi di cagar alam itu, Mas Nuryanto, kami mengunjungi beberapa tempat yang menarik. Di beberapa gua kami diantar oleh Mas Nuryanto yang humoris melihat batu-batu stalagtit dan stalagmit yang berbentuk binatang dan benda menarik lainnya. Binatang seperti monyet, lutung, rusa, mencek juga banyak terlihat di tempat ini.

Lelah berjalan hampir satu jam di cagar alam, kami kemudian mencari restoran (seafood tentunya) untuk makan malam. Sedikit jauh dari kawasan utama, kami menemukan restoran itu. Restoran 33R namanya, entah apa singkatannya. Kami makan cumi krispi, ikan bumbu sungai asam, hiu bakar dengan minuman jus. Sambil menatap lautan yang mulai gelap karena sudah menjelang waktu maghrib, makananpun ludes dalam sekejap. Maklum hidangan muncul setelah menunggu sekitar setengah jam. Hari pertama di Pangandaran ditutup dengan tidur yang nyenyak karena capek dan kenyang pula.

Hari kedua dimulai dengan sarapan pagi di hotel yang oke punya. Menunya yang nasi goreng, telor ceplok dan beberapa menu buah ditambah jajan pasar seperti pisang goreng. Makan di dekat kolam renang menambah segar suasana pagi itu. Ditambah jus jambu dan jeruk membuat kami siap berwisata lagi di Pangandaran.

Tujuan pertama hari itu adalah Green Canyon. Setelah sekitar satu jam perjalanan, kami sampai di tepian sungai dengan banyak perahu kecil bersandar. Karena tiket dan biaya pemandu sudah bagian dari paket wisata hari itu, maka kami tinggal dipersilakan naik ke salah satu perahu disana. Dua orang pemandu lokal menyertai kami. Pemandangan di kanan-kiri sungai sangat indah sekali. Sesekali terlihat biawak yang sedang berjemur. Ada satu yang lumayan besar bahkan mirip seekor buaya.

Perahu makin lama berjalan ke arah hulu. Cuaca seperti makin mendung karena rimbunnya pepohonan. Tibalah kami di tempat seperti gua. Dari batuan di atas kami air mengucur seperti air hujan. Di kanan kiri terlihat batu sungai mirip tebing. Suasana sejuk menyergap tubuh. Beberapa perahu sudah ditambat di tempat itu. Pemandu lokal kami menawarkan untuk meneruskan perjalanan dengan berenang melewati air dibawah gua. Karena masih ada tempat lain yang akan dikunjungi kami menolaknya. Setelah berfoto ria kami kembali ke tempat parkir mobil. Tentu dengan perahu yang sama dan melewati jalur yang sama ketika kami pergi.

Kami kembali ke mobil untuk menuju ke tempat wisata kedua. Citumang. Jalan yang rusak dan kecil harus dilalui oleh kami. Sekitar satu jam kami sampai ke parkiran mobil lokasi wisata Citumang. Beruntung kami menyewa guide yang menunjukkan lokasi itu. Kalau tidak, bisa jadi hanya putar-putar cari lokasi karena minimnya petunjuk arah. Perjalanan diteruskan dengan berjalan kaki. Kami melewati jalan kecil berbatu. Terlihat seorang petani mengambil butiran kelapa dari sungai kecil sebelah jalan yang kami lewati. Tadinya saya menyangka dia menemukan kelapa itu di sungai. Sangkaan saya salah. Ternyata di sebelah hulu sana, ada lagi seorang yang menyemplungkan kelapa-kelapa itu setelah dipetik dari pohon. Cara yang cerdik. Daripada memanggul kelapa itu lewat darat, mereka mengalirkannya lewat sungai kecil itu.

Berjalan kaki diteruskan sampai kami bertemu gerbang. Gerbang yang betuliskan lokasi wisata Citumang. Waduh, lumayan juga jauhnya. Apalagi di rombongan saya ada anak bungsu saya yang masih enam tahun dan juga ibu mertua yang enam puluh tahun. Ternyata yang dimaksud gerbang itu memang cuma gerbang. Kami harus kembali berjalan kaki ke lokasi yang sebenarnya. Kali ini jalan yang ditempuh sudah dipasangi konblok.

Akhirnya kami sampai ke lokasi wisata Citumang yang sebenarnya. Sebuah gua yang cukup besar terlihat di sebelah kanan sungai. Di dasarnya mengalir air. Menurut pemandu lokal disitu kedalaman gua yang berakhir itu mencapai limapuluh meter. Pemandu lokal mulai memasangkan pelampung di badan kami. Anak saya yang bungsu mulai terlihat khawatir. Berombongan kami kemudian berenang menuju mulut gua itu. Ada seutas tali yang bisa kami pegang sampai ke mulut gua. Ibu mertua dan anak saya yang bungsu sedikit kesulitan karena dalamnya air. Mereka memang belum terbiasa berenang. Pemandu lokal bahkan harus menggendong anak saya melewati batu-batu.

Sedikit kedalam gua ada sebuah batu yang menempel ke dinding gua. Saya berusaha menaiki batu itu dari sebelah kiri. Ternyata tidak berhasil. Berenang sedikit ke sebelah kanan batu, saya berhasil menaikinya. Pemandu lokal sedikit "show-off" dengan menaiki dinding gua yang penuh dengan akar pohon. Dia kemudian loncat ke dalam air dari ketinggian sekitar lima meter. Saya yang berdiri di batu itu kemudian juga loncat ke dalam air. Tingginya cuma dua meteran tapi lumayan bikin kuping sedikit sakit setelah terjun ke dalam air.

Kami tinggalkan gua itu setelah kenyang berfoto ria. Kami lanjut berenang dengan menyusuri sungai. Tujuan akhir kami adalah di tempat parkir mobil. Sungai berkelok dengan kedalaman yang bervariasi dan berbatu. Kami harus mengkombinasi antara berenang dan berjalan kaki. Bagian sungai yang terjauh adalah ketika kami harus berenang sekitar 50 meteran. Kedalaman air disitu mencapai sepuluh meter. Air sungai yang dalam tidak membuat alirannya kuat. Kami seperti tubuh yang mengambang di atas sungai. Pelan kami terus berenang. Sambil menikmati segarnya udara dan menikmati pepohonan di sekitarnya.

Pemandu lokal memberitahu kami kalau sore banyak monyet yang turun ke sungai. Waduh, saya kemudian mempercepat renang supaya cepat sampai dan tidak kepergok monyet-monyet itu. Tibalah kami di lokasi mirip bendungan kecil. Menaiki tangga batu di sebelah sungai itu kami sampai di saluran irigasi. Arus sungai kali ini cukup deras. Kami berenang dengan cara terlentang. Masing-masing memegang kaki orang di belakangnya. Pemandu lokal berjalan menarik kami dari depan barisan.

Belum sampai 50 meter, tiba-tiba anak saya yang sulung berteriak "Ular-ular" katanya. Ternyata benar. Di sebelah kiri kami ada seekor ular kecil. Berwarna kuning campur hijau, ular itu berenang berusaha menaiki dinding sungai. Pemandu lokal mengusirnya dengan menciprati ular dengan air dan pelampung yang tidak dia pakai. Sesaat ular itu malah seakan menghadang kami. Tidak bergeming. Pemandu lokal akhirnya berhasil mengusir ular itu. Kamipun selamat sampai di parkiran mobil.

Berbilas air dan ganti baju bersih, setelahnya kami melanjutkan perjalanan. Setelah satu jam lebih berenang tentu dari perut sudah terdengar musik keroncong. Mungkin sudah jadi musik seriosa. Saking laparnya. Akhirnya perut kami kembali terisi oleh seafood, yang kali ini beranggotakan ikan kue, ikan bakar dan cumi bumbu saus padang. Badan remuk kecapekan tapi hati puas.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar